Pemandangan dari teras dengan tepi laptop, kolam renang di bawah, hijau tropis dan bangunan di kejauhan.
Tempat tenang untuk berpikir.

Vibe, AI yang Tidak Mengajak Anda untuk Membuat Koneksi

Sebuah cerita tentang Vibe. Dalam versi asli cerita ini, AI milik Mistral masih bernama Le Chat. Namanya mungkun sudah berubah, namun ceritanya tetap sama.

Vibe, AI asal Eropa buatan Mistral, diam menunggu di balik layar kosong saat saya duduk di teras. Hari itu sudah berjalan dengan ritmenya sendiri. Dari lantai satu, pandangan terbuka lebar. Di bawah, kolam renang terlihat tenang, dikelilingi hijau tropis yang membuat segalanya terasa lebih lembut. Lebih jauh, kota pesisir terbentang dengan gerakannya sendiri. Terlihat, tetapi tidak menuntut perhatian. Udara hangat, stabil.

Di sinilah saya menulis. Di luar. Laptop terbuka. Kopi cukup dekat. ​Sebuah kalimat sudah ada di kepala saya. Dan kalimat itu bandel. Sudah saya ubah lima kali, saya hapus enam kali dan tetap saja terasa salah. Kalimat itu menggantung di pikiran, belum jadi apa-apa, tapi cukup untuk menghentikan semuanya.

​Saya membuka laptop dan mengetuk aplikasi Vibe, masih memikirkan kalimat itu.

Vibe muncul tanpa basa-basi. Tidak ada animasi. Tidak ada sambutan. Hanya ruang kosong yang siap diisi.

Di bagian bawah layar, nama Mistral muncul dengan tenang. Bukan logo yang ingin dilihat, lebih seperti nama di punggung buku.

​Saya mengetik pertanyaan persis seperti yang ada di kepala. Tidak dirapikan. Tidak diperhalus. Hanya masalahnya saja.

Vibe menjawab.

Jawabannya tepat dan seperlunya. Tidak mencoba mendekat. Tidak mencoba terdengar ramah. AI itu memberi jawaban, lalu berhenti. Seolah di situlah kesepakatan kami berakhir.

Jeda itu terasa penting.

​Vibe tidak berusaha membangun hubungan. Tidak memberi saran lanjutan. Tidak peduli saya sedang duduk di mana, di atas kolam yang memantulkan cahaya, dengan kota terbentang di kejauhan.

Vibe tidak tertarik pada kedekatan.

Saya bertanya lagi.
Jawaban datang lagi.
Lalu diam.

Tidak ada lanjutan. Tidak ada dorongan. AI itu tetap di tempatnya, tugas selesai.

​Saya menutup tab.

​Tidak ada yang mengikuti saya.

Teras kembali mengambil alih. Pantulan cahaya bergerak pelan di air kolam. Kalimat di kepala saya akhirnya longgar. Tidak lagi macet. Siap dibentuk.

​Beberapa waktu kemudian, saat cahaya berubah dan kota di bawah terasa lebih hidup, saya membuka Vibe lagi. Bukan karena kebiasaan. Bukan karena rasa loyal.

Karena saya membutuhkannya.

​AI itu sama seperti sebelumnya. Jarak yang sama. Sikap yang sama. Vibe menjawab, lalu menyingkir.

​Tidak ada rasa akrab yang tumbuh. Tidak ada hubungan yang terbentuk. Vibe memang tidak dirancang untuk menjadi bagian dari hidup saya. Ia ada hanya saat dibutuhkan — dan hilang saat tidak.

​Saya menutup laptop dan bersandar, membiarkan teras kembali mengambil alih.

​Kalimat itu akhirnya menemukan tempatnya.

Vibe tidak mencoba ikut.

Dan itu terasa pas.

TrenStorytelling

Hanan

Selalu ingin tahu tentang hidup dan orang


Hanan: teks•Apriyan: pengedit teks•27 Januari 2026, updated 14 September 2026

Anda Mungkin Suka Ini

Suka yang ini? Kami memilih beberapa artikel lain yang mungkin juga anda suka.

Suaramu!

TINGGALKAN BALASAN.

Komentar Anda akan diposting setelah disetujui.