|
Di distrik tekstil Kyoto, kimono masih memengaruhi cara seorang pria bergerak. Fashion | Catatan Fashion Di distrik Nishijin di Kyoto, pagi dimulai dengan tenang. Pintu toko kayu terbuka perlahan. Gulungan kain sutra muncul di jendela dan kimono yang terlipat rapi disusun dengan hati-hati. Di luar, jalan sempit mulai dipenuhi bus, sepeda dan pekerja yang berangkat menuju kantor. Di dalam toko, suasananya terasa berbeda. Sekilas
Saat ini kimono Jepang jarang terlihat dalam kehidupan sehari-hari di Jepang. Namun ketika kimono muncul, pakaian ini masih membentuk sesuatu yang menarik: cara seorang pria membawa dirinya. Selama berabad-abad, kawasan ini menjadi bagian penting dari perdagangan kimono di Jepang. Bengkel tekstil, pedagang kain dan toko kimono masih berada hanya dalam beberapa jalan kecil. Beberapa toko bahkan telah dikelola oleh keluarga yang sama selama beberapa generasi. Di dalam toko, rak sering dipenuhi kimono yang terlipat rapi, disusun menurut warna dan musim. Di negara yang dikenal dengan kecepatan dan inovasi, kimono berada di dunia yang berbeda. Ketika kimono kembali dipakaiKehidupan sehari-hari di Jepang sekarang terlihat seperti di banyak negara lain. Jas kerja, jaket kasual dan mode internasional mendominasi jalan di Tokyo, Osaka dan Kyoto. Kimono biasanya muncul saat acara penting. Pernikahan, upacara kedewasaan dan festival tradisional masih membuat kimono kembali dipakai. Bagi banyak keluarga, kimono juga menyimpan cerita keluarga. Satu kimono bisa dipakai oleh beberapa generasi, dari ayah kepada anak laki-lakinya. Disiplin dalam gaya kimono priaKimono pria Jepang memiliki gaya yang sederhana dan terkendali. Warna gelap, pola minimal dan lapisan pakaian yang rapi menciptakan kesan tenang dan percaya diri. Namun generasi muda juga mulai menafsirkan kimono dengan cara baru. Di kota seperti Kyoto dan Tokyo, beberapa pria muda mencoba warna yang lebih ringan, pola halus dan gaya yang lebih modern, menjadikan kimono bukan hanya tradisi tetapi juga bagian dari fashion pribadi. Pakaian ini tidak dibuat untuk menarik perhatian secara berlebihan. Dalam budaya Jepang, gaya kimono sering dikaitkan dengan disiplin dan keseimbangan. Dalam acara resmi atau perayaan tradisional, kimono tetap menjadi salah satu bentuk pakaian pria yang paling khas di Jepang. Bentuknya membuat postur dan cara bergerak menjadi bagian penting dari penampilan. Ketika pakaian memengaruhi perilakuKimono tidak hanya mengubah penampilan. Pakaian ini juga memengaruhi cara seorang pria bergerak. Sebagian besar pakaian modern dibuat untuk kenyamanan dan kecepatan. Kimono memiliki logika yang berbeda. Struktur lilitan dan lapisan pakaiannya membuat gerakan menjadi lebih terkontrol. Berjalan, duduk dan berdiri membutuhkan kesadaran terhadap tubuh. Mengenakan kimono membuat seseorang lebih memperhatikan postur dan gerakan. Di tengah budaya yang semakin cepat, ritme yang lebih lambat ini memberi kimono makna yang tetap bertahan. Siluet yang terus memengaruhi fashionPengaruh kimono tidak hanya terlihat dalam acara tradisional. Banyak desainer di Jepang dan negara lain mempelajari bentuk dan siluet kimono. Dalam beberapa tahun terakhir, jaket dan pakaian modern yang terinspirasi dari kimono mulai muncul dalam koleksi fashion internasional dan juga dalam streetwear. Bagi sebagian generasi muda, kimono juga dianggap sebagai bentuk slow fashion — pakaian yang dibuat untuk dipakai selama bertahun-tahun, bukan hanya satu musim. Desain ini jarang meniru kimono secara langsung. Sebaliknya, para desainer menerjemahkan struktur kimono ke dalam pakaian modern. Hal ini menunjukkan bahwa bentuk pakaian berusia ratusan tahun masih dapat memengaruhi gaya masa kini. Gaya dengan ritme yang berbedaJepang sering dikenal sebagai negara yang bergerak cepat. Kereta cepat, teknologi maju dan desain modern menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Namun di distrik tekstil Kyoto dan di lemari keluarga di seluruh Jepang, kimono tetap mengikuti ritmenya sendiri. Kimono membawa gagasan gaya yang berbeda. Gaya yang dibentuk oleh ketenangan, kesederhanaan dan ingatan budaya. Di toko-toko tenang di Nishijin, di mana kimono sutra masih dilipat dan dipajang setiap pagi, ritme itu masih terlihat jelas. Kota di luar mungkin bergerak cepat. Kimono tidak pernah dibuat untuk mengikuti kecepatan itu. Kimono tetap menjadi salah satu unsur paling dikenal dalam pakaian tradisional Jepang. Anda Mungkin Suka Ini Suka yang ini? Hanan memilih beberapa artikel lain yang mungkin juga anda suka. Suaramu!
0 Comments
Your comment will be posted after it is approved.
Leave a Reply. |
|