Just Hanan
  • JH World
  • JH Visuals
  • JH Indonesia
beranda Just Hanan Indonesia
  • beranda
  • Life
  • Foodie
  • Musik
  • Travel

Majalah Lifestyle Humanis

Bagaimana orang-orang menyajikan makanan sekarang

6/1/2026

0 Comments

 
Makan - Minum ■
​Sore hari, di suatu tempat di dunia. Minyak panas berbunyi di wajan di Jakarta. Sebuah lapak malam di Bangkok membungkus makanan panas tanpa berhenti. Di Naples, roti dibelah saat masih mengepul. Di tempat lain, saus dimasak perlahan sejak berjam-jam lalu.
​Tempatnya berbeda. Nalurinya sama.
English | Bahasa Indonesia
OLEH HANAN, baca 4 menit
Meja luar ruangan di siang hari dengan jejak makan yang penuh warna.
Satu meja, cahaya siang — dunia sedang makan, di waktu yang berbeda-beda.
Sekilas
• Makanan nyaman kembali, renyah dan saus
• Minuman lebih tenang, gula lebih sedikit
• Masakan nabati terasa normal untuk anda
• Teknik lama, rasa kuat tetap asli
​Tahun lalu, makanan kembali terasa hidup. Tidak terlalu diatur, tidak terlalu dibuat-buat. Dan tahun ini, arahnya akan makin jelas — bukan lebih heboh, tapi lebih yakin dengan dirinya sendiri.
​Ini bukan daftar tren tapi ini gambaran tentang cara orang makan sekarang, apa yang mereka cari dan apa yang terus mereka ulangi.

Saat makanan nyaman kembali jadi utama

​Tahun lalu terasa seperti tombol reset.
​Setelah lama terlalu banyak aturan dan konsep, orang kembali ke makanan yang langsung terasa benar saat disajikan. Renyah. Hangat. Asin. Mengenyangkan. Makanan yang tidak perlu penjelasan.
​Minyak panas berbuih dari sudut jalan di Yogyakarta, dapur malam di Seoul, sampai meja makan larut malam di New Orleans. Ayam, tahu, tempe, seafood, gorengan — bahannya berbeda, idenya sama. Tekstur renyah itu penting.
Makanan renyah digoreng pada siang hari.
Tekstur renyah kembali jadi pusat perhatian — panas, keemasan dan susah ditolak.
Tapi renyah saja tidak cukup.
​Saus mengambil alih peran utama. Saus manis pedas, glaze lengket, rasa fermentasi, umami yang kuat. Saus yang meresap ke nasi, menempel di jari, dan bikin orang makan lebih pelan tanpa sadar.
Gelas bening di siang hari dengan sisa cairan yang menempel perlahan.
Rasa tidak terburu-buru. Ia tinggal lebih lama.
​Lalu nostalgia ikut masuk pelan-pelan.
​Rasa asam kembali. Gigitan asin. Acar dan rasa segar yang membangunkan lidah. Di tempat yang berjauhan seperti Lisbon dan Paris, rasa-rasa lama tiba-tiba terasa menarik lagi.
​Makanan kembali ingat asalnya.

Minuman yang membuat orang melambat

​Saat makanan makin berani, minuman justru jadi lebih tenang.
​Menu kafe mulai condong ke rasa panggang, rasa kacang, rasa yang membumi. Lebih sedikit gula. Lebih sedikit terburu-buru. Minuman untuk dinikmati, bukan dihabiskan cepat.
​Di Melbourne, perubahan ini terasa jelas — warna minuman lebih gelap, rasanya lebih tenang, orang duduk lebih lama. Suasana yang sama terasa di banyak tempat: hangat lebih penting daripada stimulan, seimbang lebih penting daripada efek instan.
​Perubahan kecil ini memberi arah untuk tahun ini, di mana kedalaman rasa lebih dihargai daripada sekadar hal baru.
Minuman yang dibiarkan diam di siang hari, dengan embun di permukaannya.
Tidak semua hal harus dihabiskan dengan cepat.

Makanan nabati, tanpa panggung

​Makanan berbasis nabati sebenarnya tidak pernah pergi. Ia sudah ada.
​Tahun lalu, sayur tidak lagi berpura-pura jadi daging. Biji-bijian tetap bertekstur. Fermentasi dipakai untuk rasa, bukan untuk label. Fokusnya pada kepuasan makan, bukan pengganti.
​Dari dapur rumah sampai kaki lima, pendekatan ini terasa wajar. Dan tahun ini, arahnya sama — lebih sedikit label, rasa lebih kuat.
Hidangan nabati dengan biji-bijian dan sayuran yang dimasak sederhana.
Tanpa label, tanpa drama — hanya makanan yang terasa pas saat disajikan.

Tahun ini tentang kedalaman

​Kalau tahun lalu mengembalikan selera makan, tahun ini membawa fokus.
​Rasa gelap, panggang dan penuh karakter.
​Rasa kacang dan panggang mulai muncul di minuman dan dessert. Rasa yang tidak berteriak, tapi tinggal lama di mulut. Kaya tapi terkendali. Mengenyangkan tanpa terasa berat.
​Rasa seperti ini muncul tenang, bekerja dengan baik dan meninggalkan kesan.

Manis dan pedas, seimbang

​Manis dan pedas bukan hal baru. Ini sudah dipercaya.
Buah dengan cabe. Gula yang diseimbangkan rasa panas. Dari piring di Austin sampai saus buatan rumah di mana-mana, kombinasi ini membuat makanan terasa hidup.
​Tahun ini, rasa ini tidak dikurangi. Justru dipakai dengan lebih yakin.
Buah segar dan cabai diletakkan berdampingan di siang hari.
Dua rasa berlawanan. Satu keseimbangan.

Makan untuk puas, bukan aturan

​Tahun ini, orang akan memilih makanan yang benar-benar mengenyangkan.
​Makanan dengan bobot. Roti yang kenyal. Mangkuk makanan yang tidak bikin lapar satu jam kemudian. Fermentasi dipakai untuk mempertajam rasa, bukan sekadar hiasan.
​Fokusnya bukan lagi kontrol, tapi rasa nyaman setelah suapan terakhir.

Teknik lama, masih bekerja

​Ada juga penghargaan diam-diam pada cara masak lama.
​Api kecil. Proses lama. Warna kecokelatan yang pas. Lemak dipakai karena fungsinya jelas. Dari dapur di Naples sampai rumah-rumah di mana saja, orang memasak dengan cara yang mereka tahu rasanya enak.
​Bukan nostalgia. Tapi masuk akal.

Cita rasa yang tetap terasa di mana pun tanpa kehilangan kualitasnya

​Tahun ini, rasa bergerak — tapi tidak jadi datar.
​Rempah tetap kuat. Sambal tetap tajam. Saus tetap terasa asalnya, meski muncul di tempat baru.
Makanan tidak lagi mencoba menyesuaikan diri. Ia berdiri nyaman sebagai dirinya sendiri.
Area memasak terbuka di siang hari dengan peralatan sederhana dan berwarna.
Caranya berbeda. Kesabarannya sama. Hasilnya juga.

Gambaran besarnya

​Tahun lalu mengajarkan kita percaya pada selera sendiri. Tahun ini, kita akan percaya pada rasa.
​Lebih sedikit penjelasan.
Lebih banyak naluri.
Lebih dalam.
Lebih jujur.
​Makanan tidak lagi berusaha mengesankan, tapi ia kembali melakukan hal yang paling penting — menyatukan orang, lewat satu suapan yang enak.
​Cari artikel mirip? Ketuk tag di bawah!
#Foodie     #Makan     #Minum     #Amerika_Serikat     #Australia     #Indonesia     #Italia     #Jepang     #Portugal     #Prancis     #Thailand
Picture
Hanan
Saya travel dunia untuk menemukan cerita yang tak terduga.
CREDITS Hanan: teks •  Apriyan: pengedit teks
6 Januari 2026
Anda Mungkin Suka Ini
Suka yang ini? Hanan memilih beberapa artikel lain yang mungkin juga anda suka.
Picture
4 makanan yang nyaman: travel kuliner di seluruh dunia
Picture
Apa yang membuat rempah terasa magis? Temukan rasa yang mengubah masakan anda!
Picture
Makanan khas Bali dan cerita di baliknya
Picture
Bagaimana zaitun menjadi inti dari masakan Mediterania
Suaramu!
0 Comments

Your comment will be posted after it is approved.


Leave a Reply.

Picture
JH
JH World - English Edition
JH Indonesia - Edisi Bahasa Indonesia
JH Visuals
Say hi!
Picture
Picture
Picture
Stats Since • Sejak 2023

visitors • pengunjung
34,000+
stories explored • cerita dijelajahi
70,000+

​Just Hanan — originated • berasal 2011

    SUBSCRIBE

    Sign up with your e-mail address to recieve updates regarding upcoming posts, offererings, events and news! • Daftar dengan alamat e-mail anda untuk menerima pembaruan megenai postingan, penewaran, acara dan berita mendatang!
SIGN UP
We respect your privacy and will only reach out when we have something important and exiting to share! • Kami menghormati privasi anda dan hanya akan menghubungi anda jika kami punya sesuatu yang penting dan menarik untuk dibagikan!
This Site use cookies. Situs ini menggunakan cookies.​
​Cookie statement

Copyright © JH Media, 2011-2025. All rights reserved.
Privacy policy

beranda Just Hanan home